Skip to main content

Kemajemukan dan Kesatuan

Oleh: Yusuf Daud*

Kemajemukan agama merupakan realitas konkret, suka atau tidak. Meski semua penganut agama yang beragam itu meyakini bahwa Tuhan adalah Maha-Esa, namun kenyataannya di muka bumi ini terdapat macam-macam agama.

Kenyataan pluralitas itu ditegaskan oleh Tuhan dengan menyatakannya dalam berbagai kitab suci. Di dalam Alquran sendiri disebutkan bahwa tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) supaya mereka menghadap kepada-Nya. Tuhan juga telah menetapkan aturan dan jalan terang yang berbeda-beda bagi tiap-tiap umat. Sekiranya Dia menghendaki, bisa saja komunitas besar manusia hanya dibentuk satu umat yang homogen. Namun Tuhan tidak melakukannya.

Karena itu, keragaman agama adalah takdir Tuhan yang tidak mungkin berubah, diubah, dilawan dan diingkari. Jika hukum itu coba diubah dan dilawan, maka akan berakibat fatal bagi kelangsungan dan kedamaian hidup umat manusia.

Tuhan telah mengutus sejumlah nabi-nabi agung dan membangun banyak jalan untuk kembali kepada-Nya. Syariat-syariat (aturan-aturan dalam agama) berbeda karena mereka tidak mungkin untuk tidak berbeda. Keseluruhan syariat tersebut mengarah kepada-Nya. Namun masing-masing memiliki sebuah spesifikasi yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan dengan tetap mempertimbangkan kebahagiaan manusia.

Rahmat dan kasih Tuhan sejatinya lebih agung, luas, dan lebih dahulu dibandingkan murka-Nya. Rahmat ini jelas dibutuhkan oleh kemajemukan agama demi kebahagiaan manusia. Karena kecenderungan watak manusia yang berbeda-beda, maka dispensasi Tuhan bagi manusia juga berbeda sesuai dengan perbedaan yang ada.

Sentral pemikiran yang ingin saya utarakan adalah konsep mengenai The Unity of Being (Wahdatul Wujud) atau “Kesatuan Wujud.” Tuhan, alam, dan manusia pada dasarnya satu, yang berpusat pada Tuhan sebagai Wujud Absolut (Absolute Being atau wajibul wujud), sedangkan alam dan manusia ada karena diadakan atau karena keberadaan Tuhan (mumkin al wujud atau contingent being).

Alam dan manusia adalah lokus bagi tajalli (manifestasi) Tuhan untuk menunjukkan kebesaran-Nya dan agar dikenal oleh makhluk-Nya. Karena keberadaan manusia adalah makhluk-Nya. Karena keberadaan manusia adalah tajalli (manifestasi) dari eksistensi Tuhan yang Esa dan Absolut, dengan berbagai sifat dan nama-Nya.

Konsep Kesatuan Wujud ini bila dikaitkan dengan diskursus seputar pluralisme agama akan menjadi bahan studi yang menarik. Pertanyaan yang selalu mengemuka adalah, apakah dengan banyak agama berarti banyak Tuhan, ataukah Tuhan itu satu tetapi didekati oleh berbagai ragam pemeluk agama?

Jika agama ternyata beragam, apakah keragaman itu semata produk sejarah ataukah ada campur tangan Tuhan yang telah mengirim beragam Rosul atau utusan-Nya dengan ajaran yang berbeda-beda?

Kata “pluralisme” pun tak luput dari perdebatan. Apakah pluralisme berarti menyamakan semua agama ataukah sekadar sikap mengakui eksistensi agama-agama dengan keunikannya masing-masing?

Menyoal (Kembali) Pluralisme Agama

Selama ini, diskursus tentang pluralisme agama selalu merujuk kepada karya-karya sarjana agama dari dunia Barat. Mereka mendefinisikan pluralisme sebagai pandangan dan keyakinan bahwa Yang Esa memanifestasi pada yang banyak atau agama-agama partikular merupakan respons terhadap Yang Esa.

Beberapa tokoh Sufi di abad-abad ke-13 dan 14 sesungguhnya telah mendiskusikan hal itu secara filosofis dan mendalam. Uraian ini secara serius berusaha menyuguhkan pandangan tentang bagaimana Tuhan ber-tajalli (menampakkan diri) dan bagaimana respons umat manusia terhadap Tuhan Yang Esa, sehingga terwujud kemajemukan keyakinan keagamaan. Hakikat kebenaran itu hanya satu, tetapi di hadapan manusia terbentang banyak jalan dan apa yang bisa diraih oleh manusia hanyalah serpihan-serpihan kebenaran. Para pemeluk agama dan pemerhati tradisi-tradisi agama apapun patut belajar bahwa keberagamaan yang inklusif dan pluralis itu tidak serta merta menanggalkan atau meninggalkan identitas agama historisnya.

Saat ini, pemeluk agama tidak mungkin lagi hidup menyendiri secara eksklusif, tertutup, tetapi mesti terlibat dialog dan perjumpaan dengan pemeluk yang lain. Dengan kata lain, to be religious, someone has to be interreligious. Banyak umat beragama yang kaget dan tidak siap memasuki kehidupan dan pergaulan lintas umat beragama yang semakin mengglobal dan intensif. Adanya kajian studi agama-agama ini akan menambah rujukan untuk melihat keragaman agama dan merambah jalan kebenaran menuju pada Tuhan Yang Absolut.

Pengalaman menjadi praktisi dan akademisi tasawuf (spiritualitas universalitas Islam) dan pengalaman menyelami tradisi agama-agama lain memberikan pengaruh yang dalam bagi pengalaman profesionalitas dan keberagamaan saya. Ekspresi pengalaman keberagamaan yang otentik dan universal merdeka dari belenggu pengkultusan itu seringkali menimbulkan kontroversi yang tajam di kalangan ulama-ulama syariat.

Pandangan yang banyak disalahpahami adalah konsep tentang kesatuan agama-agama (wahdat al-adyan). Konsep kesatuan agama-agama dalam pandangan yang benar hanya dapat terjadi pada wilayah esoterik atau yang transenden. Agama-agama mesti berbeda satu sama lain pada dimensi eksoterik atau pada bentuk, institusi, syariat, doktrin dan simbol-simbol. Dengan kata lain, agama-agama secara substantif dapat menyatu, meski berbeda bentuk secara formal.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pandangan-pandangan keagamaan yang toleran dan inklusif perlu terus diupayakan dan disosialisasikan betapa pun kerasnya benturan dan hambatan datang meradang dari kelompok-kelompok yang yang berpandangan sempit, merasa benar sendiri, yang tidak menyetujuinya. Apalagi mayoritas Muslim Indonesia dengan nilai-nilai ketimuran yang dikenal santun dan toleran merupakan modal sosial yang baik. Ibarat benih yang unggul, tinggal terus disirami dan diberi pupuk yang memadai.

Kompleksitas kehidupan keagamaan pada masyarakat dunia yang mengglobal membuat kajian studi spiritualitas agama-agama ini tetap penting dan relevan. Hasil studi agama-agama juga dapat menjadi basis teologis yang kukuh bagi pluralisme modern, bahwa agama, yang dipahami kaum Sufi (orang yang ber-tasawuf atau gnostik), memberi apresiasi yang dalam bagi kemajemukan. Pada tataran praktis, hal itu dapat mendorong terjadinya kesepahaman yang baik dan hubungan yang harmonis antar pemeluk agama yang berbeda-beda.

Esoterik dan Eksoterik
Nah, dalam konsep kesatuan agama-agama akan dibahas kategorisasi esoterisme dan eksoterisme sebagai proses analisis yang menjadi dasar argumentasinya. Penting juga dikemukakan adanya kesamaan makna dan tujuan yang terkandung dalam tradisi esoterik agama-agama.

Secara etimologis, “esoterisme” berasal dari kata Yunani esoteros, lalu menjadi esoterikos, yang kata dasarnya adalah eso, berarti “di dalam,” atau suatu hal yang bersifat bathin bahkan mistis (bukan klenik). Dictionary of Philosophy menjelaskan bahwa kata esoterik bermakna ritual, doktrin, atau puasa. Istilah ini sendiri ditemukan pada catatan dialog Plato, Alcibiades sekitar tahun 390 SM.

Secara terminologis, dalam kamus Webster dijelaskan bahwa “esoterik” ditujukan kepada atau dipahami hanya oleh murid-murid terbatas, terpilih, dan yang telah diinisiasi. Dalam nada yang sama, kata ini juga digunakan untuk menunjukan ajaran rahasia Phytagoras kepada beberapa muridnya yang terpilih. Dalam diskursus filsafat perennial, esoterisme adalah dimensi terdalam atau intinya agama (the heart of religion).

Membicarakan esoterisme berarti membincangkan pasangannya, yakni eksoterisme. Keduanya menyatu, tak dapat dipisahkan. Seperti halnya esoterisme, eksoterisme juga berasal dari kata Yunani exoterikos yang kata dasarnya adalah exo yang berarti aspek luar (eksternal) atau yang di luar (outside).

Secara terminologis, kamus Webster menjelaskan bahwa eksoterisme adalah suatu pengetahuan yang diajarkan bagi masyarakat luas dan tidak dikhususkan bagi murid-murid yang terpilih dan yang telah diinisiasi. Dictionary of Philosophy juga menjelaskan bahwa kata “eksoterik” digunakan untuk menyebut pengajaran yang dimaksudkan untuk dapat dipahami dan disampaikan kepada khalayak umum, sebagai kebalikan dari aspek pengajaran yang bersifat esoterik. Eksoterisme biasanya diartikan sebagai aspek luar, eksternal, formal, dogma, ritual, etika atau moral sebuah agama sebagai kebalikan dari esoterisme sebagai inti terdalam agama.

Esoterisme dan eksoterisme saling melengkapi, keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Ketika esoterisme dalam beragama ditinggalkan, maka yang terjadi adalah saling curiga satu sama lain, saling klaim kebenaran. Untuk itulah esoterik berfungsi bagaikan “hati” dan eksoterik ibarat “badan agama.”

Kehidupan keagamaan yang eksoterik ada pada dunia bentuk (a world of forms). Namun ia bersumber dari Esensi Yang Tak Berbentuk (the formless essence) atau yang esoterik. Dimensi esoterik berada di atas atau melampaui dimensi eksoterik. Kesatuan agama-agama, hanya akan terjadi pada level yang tak berbentuk, yang batin atau esoterik. Pada level eksoterik (di antara agama-agama), yang dapat dilakukan adalah dialog, pembicaraan, atau diplomasi berdasar rasa hormat satu sama lain dan dalam harmoni.

Esoterisme adalah inti terdalam agama yang mengejawantah dalam bentuk eksoterik dan sekaligus menjamin perkembangan (bentuk agama itu) secara normal dan dalam stabilitas maksimal. Esoterisme merupakan pancaran sinar, tetapi sekaligus tabir bagi eksoterisme.

Jika suatu agama, tepatnya para pemeluk agama yang bersangkutan, menolak keberadaan inti atau yang esoterik karena ketakpercayaannya atau ketakpahamannya terhadap dimensi ini, maka, bangunan agama itu akan berguncang, bahkan mengalami kehancurannya bagian demi bagiannya. Lalu yang tersisa unsur-unsurnya yang paling luar saja, yang kering tanpa makna yang dalam. Bahkan sekadar kata-kata kosong dan sentimental belaka.

Eksoterisme membutuhkan esoterisme karena dua hal. Pertama, dengan sebab esoterisme, eksoterisme dapat muncul dan mewujud secara normal. Maksudnya, esoterisme sebagai inti, berfungsi mensuplai darah segar yang merupakan sumber hidup bagi bentuk atau eksoteris agama. Tanpa inti ini, eksoterisme terpaksa hanya bersandar dan tergantung pada dirinya sendiri yang terbatas.

Kedua, karena keterbatasan merupakan karakteristik utama dari eksoterisme, dan hal itu memang telah meliputi seluruh dirinya, maka jika eksoterisme tercabut dari dimensi inti atau esoteriknya, ia hanya menjadi semacam badan yang padat dan gelap, yang karena kepadatannya sendiri akan menyebabkan keretakan. Eksoterisme akhirnya hanya akan terkungkung oleh berbagai akibat lahiriah dari keterbatasannya sendiri.

Dengan demikian, agama yang hanya mementingkan sisi eksoterisme (syariat) belaka tidak memiliki kepastian mutlak, ia bersifat relatif. Kebenaran sejati atau absolut tidak mungkin dapat ditemukan hanya pada sebuah bentuk atau perwujudan yang mungkin (ada).

Suatu bentuk pasti bersifat terbatas, karena itu tidak mungkin suatu bentuk merupakan satu-satunya perwujudan (dari kebenaran) yang mungkin dari apa yang diungkapkannya. Dalam konteks ini, agama berarti suatu bentuk, dalam arti perwujudannya yang pasti bersifat formal, khusus, dan terbatas, meskipun ia tetap memiliki kebenaran internal yang bersifat transenden dan universal. Karena keterbatasannya, suatu bentuk atau agama seharusnya membiarkan sesuatu yang lain berada di luar dirinya, yakni (sesuatu) yang tidak tercakup dalam batas-batasnya.

Dengan kata lain, suatu bentuk atau agama mesti mengakui kebenaran dirinya sebagai relatif, sebab masing-masing bentuk memiliki potensi klaim yang sama-sama absah dan valid serta berdiri sejajar satu sama lain. Karena kesejajaran dan keserupaan antar berbagai bentuk itu, maka hal itu mesti diimbangi oleh suatu persamaan, kesamaan, atau titik temu yang relatif ada di antara mereka.

Kesamaan perlu ada, agar tidak timbul perbedaan mutlak antara satu dengan yang lainnya. Jika tidak diakui adanya kesamaan atau titik temu, maka akan timbul ide yang absurd tentang kesatuan keberagaman atau kesatuan eksistensi, yang pada gilirannya akan muncul pandangan bahwa satu bentuk atau agama tidak berhubungan sama sekali dengan bentuk-bentuk lain, padahal semua (bentuk atau agama) itu merupakan perwujudan dari Yang Ilahi, Yang Satu, dan Yang Maha Mutlak. Zat yang Tak Terbatas, Tak Berbentuk dan Yang Unik hanyalah Tuhan Yang Maha Esa. Dengan logika ini, maka, semua bentuk atau perwujudan tidak dapat menganggap dirinya sebagai pemilik dari satu-satunya kebenaran Yang Mutlak. Demikian pula, kaum eksoterik (ahl al-shariah) tidak dapat mengklaim sebagai pemilik kebenaran satu-satunya.

Dalam diskursus pluralisme agama, penjelasan tentang transendensi Ilahi ini dan bahwa setiap agama lahir dan terikat pada konteks tertentu, menjadi argumen bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi atau sempurna atas yang lain. Semua bentuk-bentuk agama adalah sederajat, karena semuanya sedang mewadahi ke-Mahabenaran dan ke-Mahamutlakkan Tuhan.

Seperti telah saya singgung, esoterisme dan eksoterisme tidak dapat dipisahkan. Tanpa esoterisme, agama bagaikan tak memiliki jantung, tak memiliki kuasa supranatural. Sebaliknya, tanpa eksoterisme, agama tak berbentuk tak mewujud karena itu tak akan dikenal.

Signifikansi hubungan erat antara yang esoteris dengan yang eksoteris dapat dikatakan sebagai berikut: “Jika engkau ingin memiliki isinya, engkau mesti mengupas kulitnya” (If you would have the kernel, you must break the husk). Karena itu, untuk sampai kepada yang esoterik, tak ada cara lain kecuali melalui yang eksoterik.

Untuk sampai pada hakikat isi mesti melalui kulit (syariat). Namun, bagi seseorang dengan pengetahuan (ketuhanan) yang tinggi dan pengalaman spiritual yang memadai, kepuasan dan kesempurnaan agamanya dikecap pada pengetahuan dan pengalaman esoterik. Sebaliknya, kaum eksoterik yang tidak mau atau tidak dapat memahami realitas esoterik, kepuasan agamanya hanya berada pada dimensi eksoterik. Karenanya, sering terjebak pada klaim pemilik kebenaran satu-satunya.

Pandangan eksoterik merupakan kehendak Ilahi, dalam arti ia bukan muncul berasal dari esoterisme melainkan berasal dari Tuhan, sebab itu ia bukan saja benar dan sah, bahkan diperlukan. Apalagi, cara pandang esoterik hanya dianut oleh segelintir orang saja, khususnya dalam kehidupan modern saat ini. Sebagian besar orang, jika tidak dikatakan seluruhnya, menganut cara pandang eksoterik.

Hal ini absah dan memang demikian seharusnya. Namun, yang perlu diwaspadai adalah sifat otokrasi atau eksklusivitasnya yang cenderung mengarah pada kehidupan beragama yang intoleran, disharmoni, destruktif, bahkan chaos yang dihasilkannya. Klaim sebagai satu-satunya pemilik kebenaran mutlak (truth claim) yang melekat di dada para pemeluk agama lalu bertikai satu sama lain bukanlah isapan jempol belaka. Peradaban umat manusia dari masa ke masa selalu dinodai oleh konflik-konflik antar dan intra agama, yang tak jarang dipicu oleh otokrasi dari eksoterisme.

Lebih lanjut, keharusan berpegang pada kebenaran eksoterik adalah karena ia menjanjikan keselamatan (salvation) individu. Biasanya kaum eksoterik menganggap agama atau jalan yang ditempuhnya membawa keselamatan mutlak baik di dunia ini atau kelak di hari kiamat, karena itu tidak ada keperluan untuk mengetahui kebenaran dari (bentuk) agama lain.

Bahkan, mereka tidak hanya tidak tertarik untuk mengetahui kebenaran agamanya sendiri yang paling dalam, namun juga menolak pandangan tentang kebenaran agama-agama lain, karena ide tentang kemajemukan bentuk agama dan kandungan kebenarannya masing-masing tidak menguntungkan bagi mereka, khususnya dalam ikhtiar mencari keselamatan pribadi.

Namun, sekali lagi perlu dipertegas, bahwa kebenaran eksoterik adalah relatif. Meski keberadaannya merupakan sebuah keniscayaan (atau kewajiban) sebagai bentuk nyata dari dimensi esoteris. Namun karena ia amat tergantung kepada Yang Inti, maka ia “benar“ tapi relatif.

Tanpa jantung atau Yang Inti itu, eksoterisme ibarat patung atau benda tak bernyawa tak bisa bergerak. Wajib adanya tidak berarti mutlak. Keharusan bentuk eksoterik tidak membuatnya menjadi mutlak. Inti dari eksoterisme adalah kepercayaan kepada sebuah dogma eksklusifistik (formalistik) dan kepatuhan terhadap hukum ritual dan moral.

Dengan kata lain, keberagamaan model eksoterik adalah keberagamaan literal atau tekstualis. Keberagamaan model ini atau yang melulu berorientasi eksoterik akan rentan terjebak pada sikap bibliolatria (menuhankan teks kitab suci).

Benar, bahwa yang eksoterik adalah perlu dan harus. Namun dalam menjalani kehidupan keagamaan, seseorang siapa pun mereka, mesti memahami dan menembus yang esoterik demi mencapai kesempurnaan atau ketinggian puncak derajat kemanusiaannya.

Sejatinya, esoterisme melampaui “huruf,” bentuk formal, dogma, simbol, atau segala perwujudan yang mungkin ada. Esoterisme mengatasi semua bentuk paradoks, pertentangan atau kontradiksi. Dengan kata lain, bisa diungkapkan dalam cara pandang bahasa eksoterik: Aku dan Engkau. Bahasa esoterik: Aku adalah Engkau, dan Engkau adalah Aku. Pengetahuan esoterik bukanlah tentang Aku maupun Engkau, melainkan tentang Dia.

Tuhan dan Keanekaragaman
Keesaan Tuhan atau manifestasi dari Realitas Yang Satu tidak berimplikasi pada pengakuan satu Nabi saja, melainkan justru pada banyak dan beragam nabi. Karena Tuhan sebagai Yang Tak Terbatas menciptakan dunia yang di dalamnya terdapat keragaman, termasuk keragaman pada tatanan manusia. Karena itu, ketunggalan dalam beragama dan berkeyakinan tidak dikehendaki oleh Tuhan. Yang dikehendaki-Nya adalah keanekaragaman.

Tuhan menghendaki keanekaragaman tetapi pada saat yang sama Dia menghendaki perdamaian, bukan konflik dan perpecahan. Kehendak-Nya ini berarti membawa dua hikmah yang amat besar bagi kebernilaian hidup dan sekaligus kemuliaannya.

Pertama, manusia harus mencari kedalaman keagungan Tuhan dalam konteks hubungan-Nya dengan alam (manusia). Kedua, manusia harus cerdas mengelola keragaman dan perbedaan untuk tujuan-tujuan positif bagi keberlangsungan hidup mulia. Untuk yang kedua ini, Tuhan memerintahkan manusia agar berkompetisi dalam berbuat kebajikan dalam kenyataan hidup yang majemuk.

Jika Tuhan menghendaki bahwa manusia diciptakan berbeda-beda, maka adalah sangat logis dan amat bijaksana bahwa Dia juga memberikan perlindungan-Nya kepada para pemeluk agama yang berbeda-beda dan tempat-tempat ibadah mereka untuk mengagungkan nama Tuhan sesuai dengan keyakinan mereka. Dalam konteks ini , pernyataan Tuhan yang melarang umat Islam mencaci maki sesembahan pemeluk agama lain (QS Al-An‘am 108) menemukan relevansinya. Karena itu, keyakinan agama adalah bagian paling personal, eksklusif, tersembunyi dari manusia, dan karenanya tidak ada kekuatan apapun selain kekuasaan Tuhan yang dapat memaksakan suatu keyakinan.

Campur tangan Tuhan tentu saja adalah kasih sayang-Nya karena sifat itu yang permanen dan dominan, serta segala sesuatu ada, mewujud, dan berakhir disebabkan rahmat-Nya. Karena itu, sulit rasanya untuk menerima bahwa Tuhan adalah Mahaadil, Mahapengasih, lagi Mahapenyayang, jika Dia hanya membimbing bangsa-bangsa tertentu di belahan bumi tertentu kepada keselamatan dan kebahagiaan, tetapi membiarkan bangsa-bangsa lain di belahan bumi lain dalam kesesatan.

Sulit untuk membenarkan bahwa Tuhan adalah Mahaadil, Mahapengasih, lagi Mahapenyayang, jika Dia mengutus para rasul hanya kepada bangsa-bangsa Semitik dan meninggalkan bangsa-bangsa Yunani, India, China, Negro, dan lain lain, dalam kesesatan.

Dalam perspektif esoterik, hakikat Tuhan yang maha baik, adil, kasih dan sayang tercermin dari nilai-nilai baik, adil, kasih dan sayang tecermin dari nilai-nilai kebenaran yang dikandung oleh banyak agama dan keyakinan. Mari mensyukuri keragaman dengan menyadarkan diri bahwa " Manusia adalah satu keluarga, sebagai sesama hamba Tuhan dan berasal dari Adam.

Semua orang adalah sama dipandang dari martabat dasar manusia dan kewajiban dasar mereka tanpa diskriminasi ras, warna kulit, bahasa, jenis kelamin, kepercayaan agama, ideologi politik, status sosial, atau pertimbangan-pertimbangan lain. Keimanan yang benar pada Tuhan menjamin berkembangnya penghormatan terhadap martabat manusia dengan manusia yang lainnya. Agama bukan tujuan (ghayat), melainkan sarana (wasilat) yang mengantarkan semua pemeluk agama menuju Tuhan yang sama.***

*Penulis adalah Alumni IVLP 2016

Comments

Popular posts from this blog

Lagi, Serangan Teroris: Saatnya Meneguhkan INDONESIA sebagai ONE

Oleh: Agustinus ‘Jojo’ Rahardjo*

Rangkaian aksi terorisme yang terjadi belakangan ini –dari pemberontakan para napiter di Rutan Salemba cabang Kelapa Dua Mako Brimob, bom tiga gereja di Surabaya, bom di Rusunawa Taman Sidoarjo hingga penyerangan Mapolresta Pekanbaru, membangunkan kita. Bahwa sel-sel tidur teroris itu masih ada, dan bisa sewaktu-waktu meledak, melukai sesama anak bangsa.

Namun, sudut pandang lain yang kemudian tersibak dari peristiwa ini, yakni bagaimana seharusnya sebuah musibah menyatukan kita. Menguatkan Indonesia sebagai sebuah kesatuan, sebagaimana negara ini memiliki rangkaian kata O-N-E dalam kata ‘Indonesia’.

Sungguh menyedihkan saat melihat sebagian anak bangsa terpecah, dalam dua polar yang terpisah begitu drastis. Itu terjadi saat Pemilihan Presiden 2014 yang menarungkan Jokowi-Jusuf Kalla dan Prabowo-Hatta Rajasa dan juga Pilgub DKI 2017 memisahkan anak bangsa dalam kutub ‘Pro Ahok’ dan ‘Anti Ahok’.

Hal inilah yang terus menerus digaungkan Presiden Jokowi d…

IVLP Indonesia Kutuk Pengeboman di Surabaya

JAKARTA--Peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, pada hari Minggu (13 Mei 2018) telah mengejutkan kita semua sebagai bangsa.

Pengeboman terjadi pada pagi hari,  pada saat banyak umat kristiani tengah melangsungkan ibadah. Pengeboman telah merenggut nyawa belasan orang dan puluhan lainnya luka-luka serta masih dirawat di rumah sakit. Di antara para korban tewas terdapat anak-anak yang tak berdosa.

IVLP Indonesia mengutuk perbuatan biadab pengeboman tersebut, serta menyerukan agar masyarakat tetap tenang dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

IVLP Indonesia merupakan perkumpulan alumni International Visitor Leadership Program, Amerika Serikat. IVLP Indonesia menentang radikalisme dan intoleransi, serta mendukung keutuhan NKRI, ideologi Pancasila,  UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

IVLP Indonesia mendukung upaya pemerintah dan aparat keamanan untuk mengusut tuntas tragedi bom bunuh diri di Surabaya itu dan mengupayakan insiden serupa tidak terjadi lagi di ne…