Skip to main content

Lagi, Serangan Teroris: Saatnya Meneguhkan INDONESIA sebagai ONE

Oleh: Agustinus ‘Jojo’ Rahardjo*

Rangkaian aksi terorisme yang terjadi belakangan ini –dari pemberontakan para napiter di Rutan Salemba cabang Kelapa Dua Mako Brimob, bom tiga gereja di Surabaya, bom di Rusunawa Taman Sidoarjo hingga penyerangan Mapolresta Pekanbaru, membangunkan kita. Bahwa sel-sel tidur teroris itu masih ada, dan bisa sewaktu-waktu meledak, melukai sesama anak bangsa.

Namun, sudut pandang lain yang kemudian tersibak dari peristiwa ini, yakni bagaimana seharusnya sebuah musibah menyatukan kita. Menguatkan Indonesia sebagai sebuah kesatuan, sebagaimana negara ini memiliki rangkaian kata O-N-E dalam kata ‘Indonesia’.

Sungguh menyedihkan saat melihat sebagian anak bangsa terpecah, dalam dua polar yang terpisah begitu drastis. Itu terjadi saat Pemilihan Presiden 2014 yang menarungkan Jokowi-Jusuf Kalla dan Prabowo-Hatta Rajasa dan juga Pilgub DKI 2017 memisahkan anak bangsa dalam kutub ‘Pro Ahok’ dan ‘Anti Ahok’.

Hal inilah yang terus menerus digaungkan Presiden Jokowi dalam berbagai pidatonya, terutama setiap berkunjung ke daerah. “Beda pilihan itu boleh, tapi jangan sampai kemudian merusak persaudaraan. Pilihlah tokoh pilihan dalam pilkada atau pilpres, tapi jangan sampai merusak hubungan sebagai saudara bangsa,” begitu lebih kurang yang terus disampaikan oleh Presiden Jokowi.

Jadi, sungguh menyedihkan saat usai serangan teror akhir-akhir ini, yang ada bukannya saling bergandeng-tangan demi persatuan bangsa. Ada pihak yang justru menyatakan fakta serangan teror sebagai fiksi. Ada yang menuduh semua yang terjadi belakangan itu dibuat demi turunnya dana teror, demi pencitraan, dan lain-lain. Gila sekali, jika sampai berpandangan berbagai peristiwa itu merupakan rekayasa, dengan mengorbankan nyawa, apalagi jiwa dari anak buah (polisi) sendiri.

Berikutnya, publik seperti dibuat terbelah saat ada wacana perlu tidaknya pelibatan unsur di luar polisi (baca: tentara) untuk mengatasi level terorisme yang semakin tinggi ini. Sebagian menyatakan bahwa polisi masih layak dipercaya, sebagian meyakini bahwa eskalasi ancaman itu sudah begitu besar. Padahal, pesan Presiden Jokowi, sebagaimana ditegaskan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, kekuatan Komando Operasi Pasukan Khusus Gabungan baru akan diterjunkan jika polisi sudah meminta bantuan. Sembari menunggu revisi Undang-Undang No. 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Dalam Rapat Terbatas Kabinet tentang penanggulangan terorisme, 22 Mei lalu, Presiden Jokowi menegaskan bahwa terorisme adalah kejahatan luar biasa yang dihadapi oleh mayoritas negara-negara di dunia. Untuk memeranginya, kejahatan tersebut juga harus dihadapi dengan cara-cara yang luar biasa.

“Kita semua tahu bahwa hampir semua negara di dunia menghadapi ancaman kejahatan terorisme ini. Ancaman terorisme bukan hanya terjadi di negara-negara yang sedang dilanda konflik, tapi juga di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa juga sedang menghadapi ancaman yang sama,” kata Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi menekankan, perhatian kita disebut lebih banyak tertuju pada pendekatan hard power dalam menangani hal itu. Yakni dengan melakukan penegakan hukum yang tegas, keras, dan tanpa kompromi sekaligus memburu jaringan teroris hingga ke akarnya. Namun, hal tersebut dirasa belum cukup.

"Pendekatan hard power jelas sangat diperlukan, tetapi itu belum cukup. Sudah saatnya kita juga menyeimbangkan dengan pendekatan soft power," ujarnya.

Selain memperkuat program deradikalisasi bagi para narapidana teroris sebagai pendekatan soft power yang telah dilakukan pemerintah, Presiden menginstruksikan jajaran terkait agar langkah-langkah serupa juga diupayakan untuk membentengi masyarakat dari ideologi terorisme yang penuh dengan kekerasan.

"Saya minta pendekatan soft power yang kita lakukan bukan hanya dengan memperkuat program deradikalisasi kepada mantan napi teroris, tetapi juga membersihkan lembaga-lembaga mulai dari TK, SD, SMP, SMA/SMK, perguruan tinggi, dan ruang-ruang publik dari ajaran-ajaran ideologi terorisme," ucapnya.

Lebih lanjut Presiden mengatakan, langkah preventif ini menjadi penting ketika kita melihat pada serangan teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo minggu lalu mulai melibatkan keluarga, perempuan, dan anak-anak di bawah umur. Hal tersebut, menurut Presiden, cukup memberikan peringatan bagi kita bersama.

"Ini menjadi peringatan kepada kita, menjadi wake-up call, betapa keluarga telah menjadi target indoktrinasi ideologi terorisme," tuturnya.

Maka itu, Kepala Negara berpesan agar pendekatan hard power yang selama ini telah berjalan lebih dipadukan dan diperkuat dengan pendekatan soft power dengan turut menyasar pada langkah pencegahan berkembangnya ideologi terorisme di lapisan masyarakat yang lebih luas.

"Sekali lagi saya ingatkan ideologi terorisme telah masuk kepada keluarga kita, sekolah-sekolah kita, untuk itu saya minta pendekatan hard power dengan soft power dipadukan, diseimbangkan, dan saling menguatkan, sehingga aksi pencegahan dan penanggulangan terorisme ini bisa berjalan jauh lebih efektif," pungkasnya.

Jadi, marilah melawan terorisme dengan kesatuan, menegaskan INDONESIA punya karakter ONE dalam rangkaian katanya. Otherwise, jika terus menjadi bangsa yang berkubu-kubuan dalam berbagai isu, maka mimpi menjadi negara maju hanya seperti teriakan dalam film superhero Blue Panther dari Marvel Studios: WACANA FOREVER!

*Alumnus IVLP 2012, kini bekerja sebagai tenaga profesional bidang komunikasi politik dan diseminasi informasi di Kantor Staf Presiden

Comments

Popular posts from this blog

IVLP Indonesia Kutuk Pengeboman di Surabaya

JAKARTA--Peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, pada hari Minggu (13 Mei 2018) telah mengejutkan kita semua sebagai bangsa.

Pengeboman terjadi pada pagi hari,  pada saat banyak umat kristiani tengah melangsungkan ibadah. Pengeboman telah merenggut nyawa belasan orang dan puluhan lainnya luka-luka serta masih dirawat di rumah sakit. Di antara para korban tewas terdapat anak-anak yang tak berdosa.

IVLP Indonesia mengutuk perbuatan biadab pengeboman tersebut, serta menyerukan agar masyarakat tetap tenang dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

IVLP Indonesia merupakan perkumpulan alumni International Visitor Leadership Program, Amerika Serikat. IVLP Indonesia menentang radikalisme dan intoleransi, serta mendukung keutuhan NKRI, ideologi Pancasila,  UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

IVLP Indonesia mendukung upaya pemerintah dan aparat keamanan untuk mengusut tuntas tragedi bom bunuh diri di Surabaya itu dan mengupayakan insiden serupa tidak terjadi lagi di ne…

Kemajemukan dan Kesatuan

Oleh: Yusuf Daud*

Kemajemukan agama merupakan realitas konkret, suka atau tidak. Meski semua penganut agama yang beragam itu meyakini bahwa Tuhan adalah Maha-Esa, namun kenyataannya di muka bumi ini terdapat macam-macam agama.

Kenyataan pluralitas itu ditegaskan oleh Tuhan dengan menyatakannya dalam berbagai kitab suci. Di dalam Alquran sendiri disebutkan bahwa tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) supaya mereka menghadap kepada-Nya. Tuhan juga telah menetapkan aturan dan jalan terang yang berbeda-beda bagi tiap-tiap umat. Sekiranya Dia menghendaki, bisa saja komunitas besar manusia hanya dibentuk satu umat yang homogen. Namun Tuhan tidak melakukannya.

Karena itu, keragaman agama adalah takdir Tuhan yang tidak mungkin berubah, diubah, dilawan dan diingkari. Jika hukum itu coba diubah dan dilawan, maka akan berakibat fatal bagi kelangsungan dan kedamaian hidup umat manusia.

Tuhan telah mengutus sejumlah nabi-nabi agung dan membangun banyak jalan untuk kembali kepada-Nya. Syariat-syaria…